Minggu, 21 Oktober 2012

Ta'lim Pagi

Dua minggu yang lalu..
Pagi yang basah.
Jalanan saat shubuh itu terasa dingin masih ada bekas hujan semalam. Angin bertiup lembut. Sayup-sayup masih terdengar suara dzikir pagi di masjid.
Aku kembali melaju menembus keremangan cahaya lampu. Seusai menemani ibu-ibu mengaji di kompleks perumahan, ada seorang ibu yang bercerita tentang sakitnya yang tidak jelas, rasa nyeri di pinggangnya bagaikan diiris-iris sembilu. Ia sudah cek up lengkap hingga rontgen. Kemudian..sayapun sayapun larut dengan ceritanya.. Diakhir pembicaraan, saya mencoba memberi alternative, salah satunya dengan ru’yah syar’iyyah.

Seminggu yang lalu..
Alhamdulillah setelah ia jalani beberapa ritual sebelum tidur dan meminum air rukyah yang ku beri juga terapi kepada seorang rukyah yang rutin datang kerumahnya, sakitnya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Ia pun lebih bersemangat mengaji.

Hari ini..
Shubuh kali ini terasa sangat cepat, jam 03.55 sudah terdengar adzan.
Ku perbaiki letak jilbabku yang sedikit miring, setiap pagi aku sudah terbiasa bangun, membereskan semua pekerjaan rumah menyiapkan sarapan dan shubuh itu akupun bisa berangkat mengajar.
Sesampai dirumah yang biasa aku mengajar mengaji, pintu gerbangnya tak terkunci. Aku ucapkan salam dan terdengar pintu terbuka pelan-pelan. Akupun diminta masuk rumah. Setelah menunggu sejenak.
Lalu mulailah kami membaca Al Qur’an. Meski yang ku ajar masih terbata-bata namun huruf demi huruf mengalun lembut terbaca dengan cukup lancar.
Kemudian kami lanjutkan dengan membahas terjemah dan mentadabburi ayat demi ayat mulia itu. Dan kami mengakhiri ta’lim pagi itu dengan sharing dan pertanyaan-pertanyaan hingga doa penutup majlis.

Sebelum aku beranjak pergi, seorang ibu yang seminggu lalu menemuiku,ia kembali dengan ceritanya. Sebelum shubuh tadi ia mencoba untuk membaca Al Qur’an tapi betapa ia sangat merasa heran.
Bibirnya kelu, semua ingatnnya huruf-hurf itu hilang tak berbekas, benar-benar ia merasa tak bisa membaca apa yang ada dihadapannya.
Ia mencoba dan terus berusaha agar bisa membaca AL Qur’an.
“Ada apa ini..? tanyanya keheranan pada dirinya sendiri”.
Namun hal lain terjadi sebaliknya saat aku datang dan memulai mengaji, semua berganti dengan ringannya. MasyaAllah ustadzah…saya tadi ga bisa baca sekarang lancar sekali…
Alhamdulillah..semua hal bisa terjadi berkat pertolongan Allah semata.


06.00 Malang- 21 Oktober 2012

Jumat, 19 Oktober 2012

Yuk Mengaji

Semilir angin menerpa, riuh rendah suara anak-anak mengaji di gazebo menambah semangat mereka dalam mempelajari huruf demi huruf Al Qur'an...

Tamu Sekolah

Acara dengan Tim Kesehatan dari Universitas Brawijaya di SD Islam As Salam. Semangaaaaaaaaaaaaaaattt anak-anak setelah lomba kebersihan dan dapet kue,asyiiik.....:)

PEKERJAAN AYAH

Pada UTS hari ini, saya mengawasi di kelas satu SD.
Materi yang diujikan saat itu adalah pelajaran IPS.
Saat saya berkeliling dan melihat jawaban plus mengecek jawaban yang belum terisi oleh anak-anak.
Saya berhenti disalah satu murid yang belum lancar menulis dan membacanya yang saya lihat sejak tadi bengong.
"Mba, kenapa belum diisi?" tanya saya.
"Eh.. iya bu guru, nomer yang ini gimana membacanya ya bu?" tanyanya.
"Oh, yang no 3 ini..Ayah didalam keluarga berkedudukan sebagai..., ayo silakan segera dijawab ya mba.." jawabku.
"Sebagai pembantu rumah tangga bu.." jawabnya spontan.
"Lho kok bisa mba? bener ga..coba diingat lagi yang sudah dipelajari kemarin tentang kedudukan ayah dalam keluarga..".
"Lah iya bu, soalnya ayahku tiap hari pekerjaanya itu..apa saja yang disuruh ibu, ayah kerjakan..." jawabnya polos. ^_^


Pagi yang cerah Malang, 16 Oktober 2012

Selasa, 16 Oktober 2012

nulis apa ya...

Membuat tulisan, apapun bentuknya...membutuhkan ketekunan, upaya keras untuk istiqomah menggerakkan tangan,meluangkan waktu ditengah padatnya aktivitas yang tak pernah habis. Lama aq tak menulis dalam jumlah banyak. Sungguh ingin ku ulang kembali masa saat semangat itu meletup-letup...

Selasa, 21 Agustus 2012

Syawal yang Penuh Berkah

Catatan Hari Raya #

Indahnya ukhuwah
dalam bingkai silaturahim
ada kebersamaan
keceriaan
kebahagiaan
keberkahan
penuh limpahan nikmatNya
berbagi cerita, asa dan doa
----
Syawal menjadi bulan yang penuh jalan-jalan, namun bukan jalan-jalan tanpa makna. Jalan-jalan sekalian ibadah. Disana ada guratan kebahagiaan, kerinduan namun juga terselip kesedihan. Mengunjungi sanak saudara, mendengarkan wejangan sesepuh, menerima dan membagi angpau, menikmati tangkapan ikan, mengelilingi rumah-rumah baru milik saudara yang belum hilang bau catnya, ah..senangnya. Disisi lain ada kesedihan menyemburat saat menjenguk saudara yang sakit hingga menuntun kalimat toyyibah saudara yang sedang naza’. Satu persatu Ia panggil saudara-saudara menemuiNya, bukan jaminan yang tua yang duluan.
Bila moment berkumpul sudah diabaikan bahkan benar-benar tak mau datang tanpa alasan yang tepat. Apalagi hingga menyimpan dendam berkepanjangan, Akankah amal yang tiap hari di lakukan berbuah indah bila dengan saudara saja tak mau bertegur sapa? Hari gini masih menyimpan rasa benci itu, duh nelongsone, lebih baik buang jauh-jauh perasaan itu. Karena hanya menjadi proyeknya setan untuk mengajak manusia selalu dalam keburukan meski itu hanya secuil penyakit hati yang bisa jadi akan semakin besar hingga membakar jiwa diri, na’udzubillahi min dzalik.
---
Untukmu sahabat-sahabatku…
Ku ingin menyapamu dari jarak yang sepersekian mili didalam peta. Walau ku tak hadir dihadapanmu, merasakah engkau bahwa…
Saat Ramadhan
lapar tak terasa
lelah tak membuat putus asa
kantuk tak membuat terlena
karena nikmatNya
merajai dibulan puasa
semoga tak pergi setelah hari raya
11 bulan telah menunggu untuk istiqomah menjalankan SyariatNya

Sahabat tahukah engkau…
Berenang di samudra biru sungguh menyenangkan
Namun berenang dalam samudra maafmu sungguh jauh lebih menakjubkan ^_^

 Meski kita tak bisa berkumpul bersama namun ijinkanlah aku menggetarkan bibir dan hatiku dengan seuntai doa…
Ya Robby…sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati kami telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepadaMu, bersatu dalam rangka menyeru/dakwah dijalanMu dan berjanji setia untuk membela syari’ahMu, maka kuatkan ikatan pertaliannya.
Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahayaMu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepadaMu, hidupkanlah dengan ma’rifahMu dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalanMu. Sesunggguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong, aamiin. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Muhammad, keluarga dan sahabatnya,aamiin.


Pekalongan, 2 Syawal 1433 H




Senin, 20 Agustus 2012

Sebuah Perjalanan

Cerita Untuk Sahabat # Persaudaraan

Suatu waktu di saat aku berjalan-jalan bersama anakku Zaza, aku melihat sekelompok muslimah di Amerika Serikat menutup sekujur tubuhnya dengan jubah hitam. Setiap sore di tempat yang sama kulihat sekelompok ibu berkumpul membentuk lingkaran di taman family housing, Universitas Colorado, Amerika Serikat. Semua berbusana tertutup dan serba hitam. Sebagian dari mereka malah mengenakan cadar. Aku yang melewati kelompok itu ketika aku akan membeli sesuatu, aku hanya dapat mengira-ngira, apa yang menjadi topik perbincangan mereka? Sepertinya seru dan hangat, karena aku dapat mendengar sayup-sayup senda gurau dan tawa tertahan dari mereka. Sungguh, aku menjadi penasaran, seperti apa wajah-wajah di balik cadar serba hitam itu? Sejauh ini aku hanya bisa membayangkannya saja. Rasa penasaranku sepertinya tak akan pernah terjawab. Sebab, aku tampaknya tak berani bergabung dengan mereka. Namun, siapa sangka suatu hari aku berkenalan dengan Jamilah, wanita asal Brazil yang menikah dengan seorang pria Timur Tengah.

Dari persahabatan lintas budaya inilah aku menemukan jalan untuk mengenal kelompok ibu yang membangkitkan rasa penasaran itu. Jamilah, seperti halnya kebanyakan wanita Brazil, memiliki rupa yang cantik. Setidaknya itulah penilaianku kepadanya. Bentuk wajahnya eksotis khas Amerika Latin. Katanya, sebelum menikah dengan Ibrahim, penampilannya sangat modis di depan umum. Dia biasa mengenakan pakaian setengah terbuka ala Barat. Ketika hatinya direbut oleh pria Timur Tengah itu, semua menjadi berubah. Dengan senang hati dia meninggalkan semua itu, menggantinya dengan busana berjubah serba tertutup, layaknya seorang wanita Timur Tengah, lengkap dengan gamis dan cadar hitam. Wajah cantiknya terbenam seketika. Kami berdua sering bertemu. Kadang hanya minum teh bersama, atau sekadar berbagi resep kue dan roti atau masakan khas kami..(*ntar dikenalin gimana buat rawon yang maknyooooss…..).

Pertemuan-pertemuan tersebut selalu mengasyikkan, karena penuh dengan cerita-cerita baru tentang orang-orang dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda. Aku sempat melihat-lihat foto Jamilah ketika masih gadis di Brazil. Betapa kagum aku menyaksikan ia yang kini telah bermetamorfosis. Dia mampu berubah menjadi istri-Muslimah yang baik dan patuh pada suami. Dia telah mulai lancar berbahasa Arab dan sudah piawai menyiapkan hidangan khas Timur Tengah. Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada Jamilah mengenai sekelompok ibu berjubah hitam yang berbaju persis sama dengan dirinya. Jamilah langsung menanggapinya dengan mengundangku untuk menghadiri pertemuan dengan ibu-ibu itu, yang ternyata sudah terjadwal dengan rapi. Aku menanti saat itu dengan penuh semangat. Kukenakan gamis batikku yang paling cantik dan anggun….(*promosi rek, hehe…) dan berjalan bersama Jamilah yang berjubah hitam, lengkap dengan cadarnya. Karena cuaca yang kurang menguntungkan, kali ini pertemuan diadakan di dalam ruangan. Kami sampai di apartemen salah seorang ibu yang hari itu menjadi tuan rumah. Setelah mengintip dari balik pintu dan memastikan tidak ada pria di daerah sekitar situ, pintu terbuka dan kami dipersilakan masuk. Di balik pintu telah tersedia tempat menggantungkan baju-baju. Ya, baju-baju jubah itu ternyata dibuka dan digantung di tempat yang tersedia. Dan, aku terpana melihat wanita-wanita cantik berseliweran di dalam ruangan itu. Ternyata, meski di depan umum tubuhnya tertutup rapat, namun sesungguhnya di balik itu mereka tetap tampil modis, bahkan terkesan seksi..ups. Mukanya yang tadinya tertutup cadar rapat, kini terlihat jelas. Mata berbinar besar, tulang pipi tinggi, hidung bangir. Sempurna.....

*Teruntuk sahabatku yang akan melangkah kedunia lain…eh benua lain ^_^ Semoga selalu sehat, dimudahkanNya dalam semua urusan, senantiasa dalam ridhoNya, tetap istiqomah dan semoga menemukan komunitas yang semakin mempertebal keimanan serta ukhuwah. Aamiin

Terus Terang

Cerita Mini 4 # Terus Terang, Terang Terus..(Philips dong hehe….bukan promosi produk lho..)

“Bagaimana? Kamu mau menjadi istri saya?” tanya sosok lelaki itu lagi, masih di ruangan yang sama.
“Boleh,”jawab Ara. “Tetapi apa kamu berani? Anak saya ada 20 orang!”
Suatu hari dalam hidup Zahra Firdausi Karima, datanglah seorang lelaki. Ia tidak terlalu mengenal lelaki ini, kecuali beberapa komentar sekilas dari teman-teman mahasiswa tentang kesholehannya. Dan kini, usai acara diskusi keIslaman di UAKI Universitas Brawijaya, diruang yang hanya terhalang tabir hijab, lelaki itu, Munirul Abidin, berkata ia ingin melamar Ara!Tentu saja Ara terkaget-kaget!
“Bagaimana?” Munir tersenyum arif. “Sungguh, bagi saya 20 anak itu tak jadi masalah! Mereka juga akan menjadi anak2 saya,” ujarnya serius.
Ara diam sesaat. Munir menunggu jawabannya penuh harap. Lalu sayup-sayup terdengar suara adzan Ashar. “Saya akan menjawab 3 hari lagi,” ujar Ara akhirnya.
Munir mengangguk. Merekapun melakukan shalat Ashar di Masjid Raden Fatah Brawijaya.
Atas kehendak Allah jua, tak lama setelah itu mereka menikah. Tiga tahun setelah pernikahan, Allah mengkaruniai mereka lebih dari 500 anak! Ara tahu, Allah telah memberikannya Munir (terang) Abidin (terus/abadi), yang menjadi penerang untuknya dan para anak asuhnya. Juga bagi putra putri yang lahir dari rahim Ara sendiri.

*Terinspirasi dari seorang teman pemilik panti asuhan di kota apel nan sejuk

Dosen Keren

Cerita Mini 3 #

Suatu sore di depan kampus UIN Malang, setelah jam pertama program intensive Bahasa Arab selesai, aku duduk dibawah pohon klengkeng bersama teman-temanku. Sambil menunggu jam selanjutnya, biasa kami ngobrol dulu ditempat yang sejuk dan asri dengan rimbunan beberapa pohon klengkeng. Disitu banyak duduk mahasiswa, jadi rame sekali.
“Eh Ay, kamu tahu ga, ada dosen yang lagi jadi bahan pembicaraan di kalangan mahasiswa lho..” kata Siska temenku di kelas F2
“Lho emangnya siapa dan kenapa dengan dosen  itu?” tanyaku polos.
“Wuih, Ayi ini ketinggalan berita, itu lho yang pertama, ada ustad yang gaul, cakep, masih perjaka, kaya, punya tambak dan kebun apel, suaranya merdu kalo ngaji, hemm banyak yang naksir pingin jadi istrinya lho…”, Dista menjawab.
“Terus yang kedua, ustad ini murah senyum, orangnya manis, punya showroom mobil dan beberapa properti, jago menulis, kalo menulis khot luarbiasa indahnya, juga masih single”, Nahfa menimpali.
“Masak sih..?” tanyaku jadi penasaran.
“Masih ada lagi, kalo yang ini ustadzah, dia cantik, supel, cerdas, punya tiga minimarket, masih gadis, orangnya energik, banyak mahasiswa yang naksir…”, ujarnya si Vian.
“Apa kamu ga tertarik sama dosen-dosen itu, hayoo…”goda Fajar.
“ Siapa nama dosen-dosen itu?”
“ Yang pertama Ustad Ery, yang kedua ustad Halim, trus ustadzah Fitri” jawab Bita.
“Oh gitu ya..eh tahu enggak, kalo ustad Ery itu kakak misananku, ustad Halim itu juga anaknya budheku dan ustadzah Fitri itu kakak ku  tahu!!!
”…….????? Benarkah…?” tanya mereka hampir bersamaan.
Lalu aku pergi meninggalkan mereka yang masih terbengong-bengong, sayup-sayup terdengar suara rame didalam kelas yang sudah membahas pelajaran…
”aina ghossaan?”
“ghossan fil khammam…


*Malang, 20 Juni 2012

Kabar Duka


Cerita 2 # Mengenang Almarhumah Mba Mus 

Siang yang cukup panas, tapi tetap terasa sejuk di kota apel ini. Siang itu, saat aku masih istirahat di sekolah, aku coba membuka fb, kulihat ada pesan di inbox, lalu aku membukanya. 
“Aslmkm. Mba, mohon doa untuk kesembuhan mba Mus”, agak kaget aku membacanya, karena beberapa minggu yang lalunya aku masih saling koment-koment an di status. Benarkah mba mus sedang sakit, sakit apa? setelah ku tanyakan, hemm sakitnya tidak main-main (ups,sakit kok main-main).
”Kanker otak”..hah yang bener saja, rasanya kok aku belum percaya, tapi perasaan itu terus membayangiku.
Beberapa hari kemudian, ibuku memberitahuku bahwa putranya guruku juga mengalami hal yang sama. Sedih juga mendengarnya, jadi pingin tahu tentang penyakit ini. Sebenarnya dijaman sekarang sudah bukan hal yang mengagetkan penyakit aneh-aneh bersliweran disekitar kita, tapi bagiku kalau yang mengalami itu teman, kan jadi kepikiran, sebenarnya apa sih penyebab kanker otak itu.

Banyak penyebab adanya penyakit dalam diri setiap manusia, bisa karena factor gen, psikis, lingkungan yang tercemar, banyaknya polusi udara,air dan tanah atau dari makanan. Dan seperti yang kita ketahui, bahwa makanan yang ada disekitar kita itu banyak yang kurang bagus untuk kesehatan. Ada banyak campuran yang sudah tidak murni lagi, dalam banyak makanan sudah banyak mengandung zat-zat  pewarna;pemutih, perasa;pemanis, pengawet, pengenyal, pelembut, pengembang. Belum lagi makanan yang mengandung kolesterol,baik kolesterol baik dan jahat. Dan ternyata kolesterol  jahat itulah yang menyuburkan pertumbuhan glioblastoma, jenis tumor otak paling umum, sebagaimana hormon mendorong pertumbuhan kanker payudara dan prostat. Glioblastoma itu merupakan tumor yang paling agresif dan sulit untuk diobati. Pasien yang mengidapnya, rata-rata sanggup bertahan 15 bulan setelah didiagnosa. Menurut laporan dalam suatu penelitian yang ditulis jurnal Cancer Discovery, sembilan puluh persen pertumbuhan glioblastoma berhubungan dengan kolesterol. Sel-sel tumor itu sepertinya diprogram untuk menyedot LDL atau kolesterol jahat yang terdapat dalam tubuh. Sehingga pertumbuhan tumor itu pun semakin cepat. Dan hasil penelitiannya menunjukkan pertumbuhan tumor tergantung pada jumlah kolesterol yang ada dalam tubuh untuk hidup dan terus membesar.
Saat mengetahui aneka macamnya penyakit sekarang, seakan ingin hidup seperti jaman dulu, semua serba alami, yang tidak membahayakan kesehatan meski kadang sulit mendapatkan dan saat memakannyapun rasanya berat karena tidak ada campuran bumbu yang mengundang selera lidah, ahhh…kalau menuruti nafsu perut, tidak ada habisnya..semua kepingin yang enak-enak, lidah hanya sekedar tempat. Itu pendapat yang sadar akan kesehatan. Dan anak-anak perlu dibiasakan makan-makan yang alami, setuju?

Alhamdulillah

Puisi 1 #
Alangkah indahnya
karena aku bisa melihat kegelapan
sengatan terik matahari
dingin yang menusuk tulang
merasakan lapar dan haus tak tertahankan
kekecewaan yang mendalam
bencana tak terduga
kegagalan
putus asa
sakit
penghinaan
teguran keras
seperti hewan-hewan dan ranting-ranting pohon itu

Rebonding

Fun Story #
Ada dialog antara seorang ayah dan anaknya di desa terpencil di pulau Ende Nusa Tenggara Timur.
Waktu anaknya pulang kuliah dari Malang, rambutnya kebetulan ia rebonding.Saat sampai dirumah, babanya kaget sambil bertanya,
“Ine, kenapa rambutmu berubah?”.
Anaknya menjawab, “Baba, ni di rebonding namanya...”
Babanya tanya lagi, “Ine, apa itu rebonding?”
“Meluruskan” jawab anaknya.
Begitu tiba waktu sholat Maghrib, babanya yang menjadi imam di masjid seraya berkata :
“Rebondingkan shoff…….” semua ma’mum tertawa mendengarnya…hehe...^_^