Kamis, 14 Februari 2013

Jaga Ndalem

Suatu hari, saat aku masih duduk dikelas 2 MA, waktu itu baru sehari dilantik jadi pengurus. Hari Ahad pagi, seperti biasa kami para pengurus bergiliran menunggu di rumah abah (ndalem) untuk melayani tamu yang berkunjung dan memanggil santri putri bila ada yang mencari.
Biasanya sekali jaga ada dua orang pengurus disitu. Saat itu aku kebetulan berjaga sendiri karena pengurus lain ada keperluan ke kantor pondok.

Saat itu suasananya agak lengang karena sudah banyak tamu yang pulang. Sejenak aku duduk-duduk dikursi ruang tamu itu (berani duduk kalo tidak ada tamu, biasanya muter kayak setrikaan hehe…).
Kemudian, saat sedang asyik melihat buku, ada dua orang santri putra yang masuk, agak kaget aku dibuatnya karena mereka langsung duduk.
“Mbak, gimana persiapan untuk acara Muharam besok? Apa sudah siap dengan kain untuk backgroundnya?” tanya salah satu dari mereka memulai dengan tiba-tiba dan tanpa basa basi.
Senyuman yang sejak tadi tersungging dibibir tiba-tiba hilang.
Aku diam mematung, menelan ludah.
Entah apa yang ku fikirkan.
Tiba-tiba tubuhku mendadak panas dingin.
Pipiku merah padam.
Aku bingung tak tahu harus menjawab apa.
Anganku melayang kerumah, teringat ku pada sosok ayah yang disiplin militer tingkat panglima.
Ku ingat pesannya, “Mondok, sekolah, ngaji sing bener ga pake kenal-kenalan orang asing, yang ga penting abaikan”.
Ya, sejak MTs sekolahku jauh dari lawan jenis.
Jadi, sangat jarang aku bertegur sapa dengan lawan jenis. hingga di pesantren semakin tidak pernah menyapa lawan jenis.
Terasa asing bagiku saat ada orang laki-laki menyapa dan bicara padaku secara langsung.
Kemudian perasaan takut itu menghampiri.
“Mbak kenapa? melihat saya kok seperti melihat hantu???” tanya seorang diantara mereka.
Huh, wajahku semakin pucat pasi.
Dingin.
Tak bergerak.
Seperti ditarik bumi, lengket.
“Eh..ee…aa ..eee..ssebentar ya, saya panggilkan mbak-mbak yang mengurusi acara itu” kataku gugup.
Lalu segera saja aku berlalu dari hadapan mereka. Begitu aku balik kanan sudah muncul pengurus lain yang menggantikanku. Ah..syukurlah. Lega rasanya…

Setelah beberapa bulan sesudahnya baru ku tahu kalau yang datang di ndalem itu pengurus Al Husain dan salah satu ketua Organisasi Daerah yang sekarang sudah menikah dengan temanku di MA.
Ah..andai dia inget peristiwa itu…pasti dia akan menertawakanku wkwkwk….nih hantunya sudah jadi pengusaha. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar