Minggu, 28 April 2013

Pramugrari yang Ramah dan Baik Hati



“Good Morning…” sapanya dengan ceria. Mengagetkan semua penumpang pesawat itu, terlebih aku, karena ia mengucapkan itu tepat didepan hidungku.
Wah, ternyata sudah pagi, jam 2 dini hari. Hemm makan lagi…hidup dipesawat 9-an jam bolak balik makan tidur tanpa gerak…ck ck ck…
“Ayyu ‘idamin…?” tanyaku seketika.
“What do you say, this is…?...what, sapi..ayam..bla..bla….” tanya pramugrari itu cukup lantang.
“Oh, it’s rendang, opor..” jawabku sekenanya.
“Yeah, rrendang…ophorr…hehe…” iapun mengulangi kata seperti yang aku ucapkan dengan logat Inggrisnya yang masih kental.
Ibu bersama Mbak Debby
Teringat aku beberapa jam sebelumnya, saat aku kebingungan mencari tempat duduk.
Ibu menginginkan duduk dekat jendela dan kursi tengah, sedangkan aku ingin kursi yang depannya agak longgar agar aku bisa leluasa selonjorin kaki biar nggak bengkak.
Perjalanan yang membutuhkan waktu lama, aku perlu mencari tempat yang ku rasa nyaman.
Dan itu, ku fikir, enak kalo didepan kursi pramugrari itu.*maksa hehe…
 “Oh no..no..bla..bla..”( ia bicara dengan ibu dengan nada yang cepat hingga ibu manggut-manggut nggak ngerti ^_^ )
Kata ibuku,” Walah, wis nak ora usah ning kono, tempat itu nggak boleh buat kita, itu khusus orang-orang Inggris tok…”
Aku masih bersikeras ingin duduk ditempat itu, lalu ku coba menanyakan padanya langsung,
“Miss, may I sit here?”
“Ho ho…can you speak English”
“Yeah, little…hehe…”
“Oke, but hear me, this is the amargancy door, I need your help if there is something about this plane…bla bla..bla..
(pramugrari itu pun panjang lebar menjelaskan bagaimana cara aku harus membantunya pada saat darurat..)
“Oke, I see…”
Saat pesawat sudah stabil terbangnya kami larut dalam ceritanya. Pramugrari itu bernama Debora Syam, ia berasal dari Mumbai India.(mungkin suatu saat engkau akan bertemu dengannya jika naik pesawat Saudi Arabia Airlines). 
Ia ramah, sangat akrab dan toleran banget. Hingga larut malam, kami banyak bercerita tentang India juga Indonesia ; Surabaya. Malang..
(Ah dimana-mana kok ya sama, kalo kita sudah ketemu perempuan, maunya tuh ngobrol aja..
*orangnya asyik sih, santai tanpa beban..-kendala bahasa sudah tidak jadi masalah, meskipun kadang aku masih begong mencerna kata-katanya yang cepat hehe…)
“I like this country…” ucapnya. Penduduknya ramah, baik dan tanah di sini subur…saya pernah ke Surabaya, jika kesana, saya akan menghubungimu Rully…”

Tak terasa pesawat sudah mulai landing, hendak mendarat. Kamipun sempat berfoto ria hingga menimbulkan iri penumpang lain, yang akhirnya ikut-ikutan berfoto jg dengannya.
“Trus kapan kau liburnya mbak Debby…?” tanyaku sambil mengemasi barang-barangku.
‘’InsyaAllah Juny I’ll go to Mumbai…Ayo, main ketempatku..” ajaknya padaku.
“Wow, realy…? Maau dong hehehe…(karepe mau aja ^_^) ‘’Yes, I wanna be hehe…
“Wah nggak pulang-pulang nih kalo diterusin. Ayo itu sudah pada turun…” ibu mengingatkanku.
“Ups, oke Mrs. Debby, I hope we’ll meet again next time, thanks for your kind…”
“Oke, insyaAllah, I hope too…”

Setelah turun, kami melakukan pengecekan passport kembali kemudian mengambil koper-koper. 
Tiba-tiba aku ingat, ada yang tertinggal di kursi pesawat. 
“Kalo buku itu tidak kembali, maka aku akan memberikannya pd pramugrari itu, smg dia mau membacanya.” kataku dalam hati.
Saat hendak menunggu datangnya koper-koper kami, saya ke toilet sebentar, melaksanakan hajat yang tertunda selama dalam perjalanan di pesawat. 
Alhamdulillah, aku tidak merasa harus kencing saat di pesawat, karena aku fikir, itu akan jadi kena najis kalo aku kencing di pesawat, karena minimnya air dan tempatnya yang buat bersama ar rijal dan an nisa’.
Sesaat keluar dari toilet, ada suara yang memanggilku, dan ku rasa tidak asing mendengarnya. 
“Aha, you are mbak Debby..?
“This is your book…”
“Oh, thank you, just now I feel, if that book not back to me, I’ll give for you if you want….”
“No..no..thanks you..Oke, I must go to my hotel…see you, Assalamu’alaikum…”
“Wassalamu’alaikum..thank you very much mbak…”
Ah Alhamdulillah buku ini kembali.
Tahu engkau kawan…ini adalah salah satu buku yang aku pinjam dari sekolah SD Islam As Salam, untuk menemaniku selama perjalanan sejak berangkat dari Malang hingga kembali ke Malang lagi. 
Dan,buku-buku itu sangat bermanfaat sekali.




Bandara Soekarno Hatta - Jakarta
Pagi yang sejuk, Selasa, 9 April 2013

Sabtu, 27 April 2013

Teliti Sebelum Membeli Makanan


Kak Haidar yang murah senyum ^_^
Sore itu Haidar dan Lubna kepingin banget makan nasi goreng, karena lama tidak makan nasi goreng buat dinner. Sesudah sholat maghrib dan mengaji, akhirnya kami keluar mencari penjual nasi goreng yang ada disekitar perumahan. 
Saat itu Haidar dan Lubna senang sekali berjalan di terangi cahaya bulan yang redup. Dengan berlari-lari kecil.
“Bunda, tuh ada bulan..cantik banget, tapi kok tertutup awan ya, wah aku kepingin lihat bulan yang lebih terang”. 

Sampai di tempat penjual nasi goreng, Haidar dengan semangat dan lincah sempat menata kursi tunggu,
“Ayo bunda duduk, biar nggak capek…”
Saat itu, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada botol yang dipegang si penjual. Dan, betapa aku sangat kaget melihat cap yang tertera pada botol itu.
“Oh tidaaaak!!!” teriakku dalam hati.
“Emmm Mas Haidar maaf, bunda nggak mau beli disini, ayo kita pulang…” bisikku pada putra sulungku. Aku pura-pura tidak melihat orang-orang yang sedang mengantri disitu dan kelihatan kebingungan melihatku bergegas beranjak dari tempat itu. Beruntung ada penjual sate didekat situ, jadi aku masih bisa menghibur anak-anak agar tidak kecewa.
“Hufffhh…bunda ini aneh, kenapa nggak jadi beli disana…”tanya Haidar keheranan.

Tiba dirumah, ku jelaskan mengapa tidak jadi membeli nasi goreng.
“Nak, apapun yang kita masukkan kedalam tubuh harus sesuatu yang Allah ridhoi. Bunda tadi melihat botol yang dipake itu adalah campuran minyak yang mengandung angciu. Selama ini bunda selalu berhati-hati membeli apapun, dan botol itu….sama sekali tidak ada di daftar belanja bunda karena termasuk barang yang harom. Meskipun bunda belum konfirmasi kepada si penjual nasi goreng, isi botol itu, tapi kejadian ini membuat kita harus semakin berhati-hati dalam membeli makanan jadi. Kalau perlu tanyakan apa yang di pake/ dimasak, kehalalannya, adakah tanda halal MUInya, kamu sudah tahu kan gambar dan tulisannya…karena itu sangat penting Mas... Ini semua adalah upaya agar kita terhindar dari hal-hal yang dilarang Allah”
Putraku mengangguk, “Oooh, kalo gitu, aku nggak mau makan nasi goreng yang beli-beli deh…sekarang ayo maem satenya bund, aku lapar hehe…”

Good Evening...
Menjelang Isya', 25 April 2013

Rabu, 24 April 2013

Rindu Makkah Madinah


Jujur aku rindu suasana disana
dan hati ini ingin kesana dan kesana lagi dan lagi
engkau akan tahu jika engkau telah merasakannya
suasana yang tenang, nyaman
tak ada fikiran macam-macam selain fokus padaNya
seakan kita hendak bertemu denganNya
yah di area itu kita seakan terdorong senantiasa berdoa, berdzikir
bermunajat...
benar-benar terasa kita akan dicabut nyawa saat itu juga
namun aku tahu itu tak mungkin bila Allah tak berkehendak
Hanya doa dan perasaan rindu ini yang terus ku pupuk agar aku tetap dekat dengan rumahNya
diamanapun aku berada
Dan salah satu doaku,
..ya Robby, ijinkan aku meninggal disana saat sedang sholat didepan Ka'bah yang mulia, di kota yang suci...aamiin

Sabtu, 20 April 2013

Makkah Yang Bikin Kangen


Oleh-oleh dari Kota Suci #

“Hah…nyium Hajar Aswad ? kok kamu bisa…” tanya salah seorang jama’ah setengah berteriak saking kepinginnya tapi belum kesampaian.
“Hehe..iya bisa dengan pertolongan Allah, Alhamdulillah lancar, meskipun kepencet-pencet dan gemetar sesudahnya…^_^ ” 

Yah, semua akan terasa mudah hanya dengan pertolonganNya, kita harus yakin itu. Lautan manusia yang menurut kita nggak mungkin bisa menggapainya, insyaAllah bisa. Pasrahkan semua padaNya, terus meminta padaNya agar dimudahkanNya juga siapkan mental dan fisik yang kuat.

Saat itu waktu untuk saya melakukan thowaf wada’ karena sorenya harus berangkat ke Jeddah. 
Saya mengambil waktu dhuha, saat matahari masih hangat dan yang thowaf tidak sebanyak malam hari. 

Setelah putaran ke tujuh selesai, saya memutar lagi untuk mendekat ke maqam Ibrahim dan nempel ke Hijir Ismail, pelan namun pasti saya bisa masuk dan berdoa didalamnya. Keinginan untuk sholat di Hijir Ismail tidak bisa saya lakukan melihat tidak ada tempat dan penuhnya jama’ah. 
Setelah itu saya memutar lagi. 
Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah allahu akbar…terus terdengar disana sini.. 
Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar… 
Saat mendekati multazam semakin padat jama’ah yang berhenti, Bismillah Allahu Akbar…

Dengan tetap bergandengan tangan saya pegang erat tangan ibu saya, dan pelan-pelan mendekati kerumunan yang sepertinya sulit diurai. Saya melihat, ada jama’ah ar rijal yang kesulitan kembali saat sudah mencium hajar aswad. 
Ragu-ragu saya melangkah, namun ibu saya yang sejak awal keberangkatan umroh ini dari tanah air memiliki keinginan kuat mencium hajar aswad membuat saya meneguhkan niat dan berdoa, semoga bisa tercapai keinginan ibu. Ibu saya tak henti-hentinya berdoa, ya Allah mudahkan beri kami jalan bisa kesana..akupun mengaminkannya. 
Tepat saat itu datang gelombang manusia yang semuanya an nisa, sayapun sedikit menggeser maju selangkah demi selangkah, kurang satu depa lagi…
”Oh no, my hand, afwan yadii, yadii..”..tangan saya tergencet di ketiak ibu-ibu yang bertubuh besar dan pegangan sayapun terlepas dari ibu yang sudah mulai putus asa. 
“Ibu, ayo semangat…sedikit lagi, ni tinggal sak kilan…ibu bisa, ayo bu…” 
Yah ternyata ibu tidak mau mengambil resiko lebih jauh, ia khawatir dengan nafasnya yang mulai sesak. 

Sayapun kembali meringsek maju dan…tepat didepan hajar aswad, MasyaAllah luarbiasa..saya bisa disini…(*kembali terharu hiks…) saya mencium, berdoa dan berdoa dihajar aswad, menciumnya lagi dan lagi…karena tidak ada wajah orang lain didekat saya, jadi bolak balik saya memegang dan menciumnya…

Setelah dirasa cukup, sayapun hendak keluar dari kerumunan itu, wah ini ni tantangan keduanya (kembali dengan lancar), ya Robby..mudahkan ya Allah… sebuah seruan dari seseorang dengan logat khas Melayu agar saya harus bisa keluar dari sana. 
Dengan sedikit melayang dan meringankan tubuh, sayapun bisa keluar dengan tangan gemetar dan degup jantung yang sangat cepat…lalu sayapun sholat mutlak lurus dengan Multazam. 

Alhamdulillah Allahu Akbar….

Makkah Al Mukarromah
Ahad, 07-04-2013, jam 10.05

Madinah Yang Bercahaya

Bersantai sejenak setelah shalat Ashar di sore yang indah
Oleh-oleh dari Kota Suci #
Jam telah menunjukkan pukul 02.30, bergegas saya bersiap-siap hendak ke masjid Nabawi. Hotel El Af Al Bustan tempat saya menginap, jaraknya tidak begitu jauh dari masjid.
Saya dan beberapa jama’ah yang lebih banyak sudah berusia lanjut, menyusuri jalanan yang mulai dilalui jama’ah dari negara lain.
Beruntung saya bisa datang lebih awal, jadi bisa bebas memilih tempat yang dirasa nyaman buat shalat dan tadarrus. Karena kalau telat mendekati jam shalat, sudah bisa dipastikan tidak bisa dapat tempat didalam masjid.
Jam 03.00 adzan mengalun merdu tanda untuk shalat lail. Sambil menunggu adzan subuh dikumandangkan biasanya para jama’ah, banyak mengisi dengan tadarrus/dzikir.
Saya sendiri kadang memanfaatkannya dengan mengajak tadabbur Al Qur’an bersama ibu-ibu lain, agar mereka tidak terlena dengan semilirnya angin sejuk yang berasal dari bawah tanah setiap tiang didalam masjid.
Jika sudah terlena, kantukpun datang yang membuat mata pelan namun pasti mengatup…wah kalo sudah gitu, kan harus wudhu lagi, apalagi jika duduknya dengan diselonjorkan kakinya, emang nikmat sih buat yang masih ngantuk hehe…

Saat itu ada kejadian, salah satu jama’ah dari Turki yang tiba-tiba saja pingsan, mungkin saking lamanya ia duduk didekat AC tiang itu, terus jadi masuk angin. Beberapa jama’ah sibuk membantu agar ia tersadar dengan mijitin disana sini, sampe mengangkat kakinya segala ck ck ck...
Kebetulan saya membawa minyak kayu putih dan aroma terapi yang saya bawa dari rumah,
‘’Ah, siapa tahu ini bisa membantu...’’pikir saya.
Dengan agak ragu-ragu, saya mendekati kerumunan itu, lalu dengan bahasa Arab yang saya bisa, saya mencoba menawarkan minyak kayu putih.
Oho..ternyata semua pada bengong, karena nggak ngerti bahasa Arab saya hehe..
Kemudian saya alihkan pake bahasa Inggris saya yang belepotan…
Weh weh baru mereka respek hehe..
(Ahai saya masih kepikiran bahwa yang berhidung mancung khas Timur Tengah itu bisa bahasa Arab, ternyata tidak juga…kebanyakan dari mereka lebih fasih bahasa Inggris).
Dan Alhamdulillah ibu yang pingsan tadi sudah sadar dan merasa lebih nyaman, ‘’It’s fresh, I like this…’(sambil mengangguk-angguk). Dan tepat saat adzan subuh berkumandang, ia bisa melaksanakan shalat meski dengan duduk.


Beberapa saat sesudah shalat subuh, saya masih senang menikmati pemandangan di masjid. Yah, banyak tempat disekitar masjid yg bisa kita kunjungi.
Saya mengelilingi masjid Nabawi yang luas itu dan berhenti di makam Baqi' cukup lama, saya ingin berziaroh ke makam para sahabat nabi dan orang-orang sholeh.
Allahu yarham Abah Masruri Abdul Mughni, Pengasuh Pondok Al Hikmah Benda Sirampog Brebes (tempat saya menimba ilmu saat di Aliyah) yang dimakamkan disana (meninggal saat ibadah haji tahun lalu/2012) tak lupa saya ziarahi dan doakan.

Makam Baqi’ hanya dibuka untuk ar rijal, sedang bagi an nisa cukup dari luar. Meski begitu, selalu ramai dikunjungi peziarah, terutama pada pagi hari/malam pada saat matahari tidak terlalu panas menyengat. Setelah dari sana, saya pun diajak ibu-ibu lebih tepatnya nenek-nenek sih,agar segera kembali ke hotel untuk sarapan dan mempersiapkan diri untuk ke Raudhoh.
”Hemm…aroma telur goreng sudah tercium nih, embah wis luweh je nak…” kata simbah-simbah itu. Meskipun bilang lapar, tapi kenapa masih mampir buat lihat-lihat jualan yang ditawarkan pedagang disepanjang jalan itu…hadeeh mbah-mbah!

Sinar mentari cepat sekali naik, saat kami berkumpul kembali hendak menuju masjid, disana pemandu khusus an nisa sudah siap. Kamipun diminta menunggu giliran. Jama’ah yang datang ke Masjid Nabawi ini dari penjuru dunia hingga askariyah membagi ke beberapa kelompok besar, saya ikut rombongan Melayu. Para askariyah itu sangat hafal wajah kita, orang-orang melayu…sangat jelas sekali, kulit dan hidung kita tak sama dengan mereka yang dari Timur Tengah apalagi dari Eropa hehe…
Menurut guide kami, para askariyah itu lebih senang sama orang Melayu, karena mau bergantian berdoa di Roudhoh. Tidak seperti mereka (selain orang Melayu) yang tidak peduli dengan oranglain yang juga sedang mengantri. Kalau saya fikir, itu karena tubuh mereka lebih tinggi dan besar jadi ya bisa lebih lama berdoa, kita yang bertubuh mungil gampang banget digeser jadi mau nggak mau harus mengalah hehe…

Back to Raudhoh. Alhamdulillah semua titipan salam buat Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam wa ahlihi wa sohbihi sudah saya sampaikan, juga do’a-do’a saya panjatkan, khusu’, nikmat, tenang dalam keramaian. (Subhanallah...aku ingin mengulanginya lagi ya Allah). Kondisi yang harus bergantian jadi membuat kita harus punya strategi agar bisa lebih lama berdo’a dan sholat di Roudhoh, sayapun beralih tempat kedepan, geser, kanan kiri, mendekat dengan makam atau dipinggir yang penting masih di karpet hijau abu-abu (wilayah Roudhoh).
Setelah dirasa cukup, akhirnya saya keluar dengan perasaan lega, plong rasanya…
Dan, tepukan kecil dibahu mengagetkan saya, “From Indonesia..?”…tanya jama’ah ibu-ibu yang ternyata dari Turki dengan ramah. Dan perbincangan kamipun berlanjut hingga pintu gerbang masjid, meskipun bahasa yang kita pake dan mereka ucapkan nyaris seperti suara lebah dan juga sering dengan bahasa tarsan…tapi tetap saja ada keakaraban yang terjalin. Mereka ramah banget, care dan toleran.

Tak terasa waktu beranjak mendekati waktu sholat dhuhur,sayapun segera mengambil wudhu dan menunggu adzan diteras masjid.
Zam-zam yang tak pernah jauh dariku
Saat itu Madinah sedang bercuaca dingin seperti di Malang namun kelembabannya melebihi Kota Batu, hingga bibir dan kulit terasa sangat kering bahkan pecah-pecah. Karena saya tidak membawa lipglos atau madu dari rumah, akhirnya saya netralisir dengan minum zam-zam tiap beberapa menit sekali.

Selesai shalat dhuhur, saya tidak segera beranjak dari tempat duduk, sambil melanjutkan membaca Al Qur’an saya menunggu jalan agak longgar agar tidak berdesakan dengan jama’ah lain yang juga sama-sama keluar dari masjid.

Tidak jauh dari sisi depan saya, ada jama’ah an nisa nan jamilah euy..yang sedang mengaji dengan sangat cepat.
Ibu saya penasaran, ‘’Kok ngajinya ngebut banget…
”Mungkin hafidzoh bu”, jawab saya sekenanya.
Beberapa saat kemudian setelah ia menyelesaikan hafalannya, saya mencoba bertanya, “Afwan, lau samahtu an as al, min ain inti?” tanya saya agak ragu, khawatir menganggunya.
Ia pun terlihat bingung….
”Hi, can you speak English or Arabic?”, tanya saya kemudian.
“..Oh.. English…bla bla bla…”
Mengalirlah ceritanya kalau ia tinggal di Inggris, namanya Azrah, keturunan Pakistan, ia sedang berumroh dengan keluarganya. Azrah sedang menghafalkan Al Qur’an, namun ia tak mau menyebutkan berapa juz yang telah ia hafal.
Asyik ngobrol dengannya, ia bisa memahami listening saya yang kurang jelas memahami bahasanya.
Dan, inipun yang membuat saya mau nggak mau mengeluarkan seluruh file-file vocab yang sudah menguap agar kembali lagi.
 Sesekali ia bicara bahasa Urdu.
“Hellooooo … ayyu lughoh dzalik…wkkwkkkk….” tanya saya yang kayak sapi melompong…coz tak ada satu mufrodatpun yang saya tahu…hehe…
Sayapun memperkenalkan diri dan mengenalkan Indonesia, she said, “Oh I never go to there…
”Aha, ayo ke Indonesia…engkau akan menemui banyak hal yang tak engkau temui di Inggris hehe…”
Setelah ngobrol banyak hal ia pun berpamitan, karena harus menemani ibunya yang sedang istirahat di hotel. Alhamdulillah…seneng rasanya ketemu saudara sesama muslimah, apalagi ia seorang hafidzoh, smart, ramah dan cantik.

Sambil berjalan pulang, simbah-simbah yang bareng saya, senyum-senyum…
”Wah seneng ya nduk, kamu bisa nyambung omongan orang tadi, embah iki ora paham blas hehe….” Ditengah jalan, tiba-tiba kami didatangi seorang ibu yang kelihatan kebingungan,
“Mak Cik, bisa tolong saya kah? Saya tak tahu hotel saya tinggal…duh gimana nih?”
Lalu kamipun mencoba membantu dengan memutari gerbang-gerbang masjid, namun sayangnya ibu ini tidak ingat nama hotel dan jalan/gerbang menuju ke hotelnya. Ia pun tidak membawa ID Cardnya. Identitas yang ada hanya yang menempel di mukenanya yang tertulis salah satu nama travelnya.
Akhirnya kami membawanya ke hotel dengan harapan ada yang mengetahuinya.
Syukur tak terkira saat saya tanyakan pada guide, salah satu yang bekerja dicatering hotel itu mengetahuinya dan mau mengantarkannya.
Ibu tersesat yang sejak tadi tegang sekali akhirnya bisa tersenyum lega…
”Ah, akhirnya aku bisa ke hotel lagi...trimakasih ya nak, trimakasih mak cik semuanya…”

Merasakan hari yang pernuh warna-warni…

Subhanallah walhamdulillah…Allahu Akbar

Madinah, 1 April 2013