Oleh-oleh dari Kota Suci #
“Hah…nyium Hajar Aswad ? kok kamu bisa…” tanya salah seorang jama’ah setengah berteriak saking kepinginnya tapi belum kesampaian.
“Hah…nyium Hajar Aswad ? kok kamu bisa…” tanya salah seorang jama’ah setengah berteriak saking kepinginnya tapi belum kesampaian.
“Hehe..iya
bisa dengan pertolongan Allah, Alhamdulillah lancar, meskipun kepencet-pencet
dan gemetar sesudahnya…^_^ ”
Yah, semua
akan terasa mudah hanya dengan pertolonganNya, kita harus yakin itu. Lautan
manusia yang menurut kita nggak mungkin bisa menggapainya, insyaAllah bisa. Pasrahkan
semua padaNya, terus meminta padaNya agar dimudahkanNya juga siapkan mental dan
fisik yang kuat.
Saat itu
waktu untuk saya melakukan thowaf wada’ karena sorenya harus berangkat ke
Jeddah.
Saya mengambil waktu dhuha, saat matahari masih hangat dan yang thowaf tidak sebanyak malam hari.
Setelah putaran ke tujuh selesai, saya memutar lagi untuk mendekat ke maqam Ibrahim dan nempel ke Hijir Ismail, pelan namun pasti saya bisa masuk dan berdoa didalamnya. Keinginan untuk sholat di Hijir Ismail tidak bisa saya lakukan melihat tidak ada tempat dan penuhnya jama’ah.
Setelah itu saya memutar lagi.
Saya mengambil waktu dhuha, saat matahari masih hangat dan yang thowaf tidak sebanyak malam hari.
Setelah putaran ke tujuh selesai, saya memutar lagi untuk mendekat ke maqam Ibrahim dan nempel ke Hijir Ismail, pelan namun pasti saya bisa masuk dan berdoa didalamnya. Keinginan untuk sholat di Hijir Ismail tidak bisa saya lakukan melihat tidak ada tempat dan penuhnya jama’ah.
Setelah itu saya memutar lagi.
Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah allahu
akbar…terus terdengar disana sini..
Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar…
Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar…
Saat mendekati multazam semakin padat
jama’ah yang berhenti, Bismillah Allahu Akbar…
Dengan
tetap bergandengan tangan saya pegang erat tangan ibu saya, dan pelan-pelan
mendekati kerumunan yang sepertinya sulit diurai. Saya melihat, ada jama’ah ar
rijal yang kesulitan kembali saat sudah mencium hajar aswad.
Ragu-ragu saya melangkah, namun ibu saya yang sejak awal keberangkatan umroh ini dari tanah air memiliki keinginan kuat mencium hajar aswad membuat saya meneguhkan niat dan berdoa, semoga bisa tercapai keinginan ibu. Ibu saya tak henti-hentinya berdoa, ya Allah mudahkan beri kami jalan bisa kesana..akupun mengaminkannya.
Ragu-ragu saya melangkah, namun ibu saya yang sejak awal keberangkatan umroh ini dari tanah air memiliki keinginan kuat mencium hajar aswad membuat saya meneguhkan niat dan berdoa, semoga bisa tercapai keinginan ibu. Ibu saya tak henti-hentinya berdoa, ya Allah mudahkan beri kami jalan bisa kesana..akupun mengaminkannya.
Tepat saat itu datang gelombang manusia yang semuanya an nisa, sayapun sedikit
menggeser maju selangkah demi selangkah, kurang satu depa lagi…
”Oh no, my hand, afwan yadii, yadii..”..tangan saya
tergencet di ketiak ibu-ibu yang bertubuh besar dan pegangan sayapun terlepas
dari ibu yang sudah mulai putus asa.
“Ibu, ayo semangat…sedikit lagi, ni
tinggal sak kilan…ibu bisa, ayo bu…”
Yah ternyata ibu tidak mau mengambil resiko
lebih jauh, ia khawatir dengan nafasnya yang mulai sesak.
Sayapun kembali
meringsek maju dan…tepat didepan hajar aswad, MasyaAllah luarbiasa..saya bisa
disini…(*kembali terharu hiks…) saya mencium, berdoa dan berdoa dihajar aswad, menciumnya
lagi dan lagi…karena tidak ada wajah orang lain didekat saya, jadi bolak balik
saya memegang dan menciumnya…
Setelah dirasa
cukup, sayapun hendak keluar dari kerumunan itu, wah ini ni tantangan keduanya
(kembali dengan lancar), ya Robby..mudahkan ya Allah… sebuah seruan dari
seseorang dengan logat khas Melayu agar saya harus bisa keluar dari sana.
Dengan sedikit melayang dan meringankan tubuh, sayapun bisa keluar dengan tangan
gemetar dan degup jantung yang sangat cepat…lalu sayapun sholat mutlak lurus
dengan Multazam.
Alhamdulillah Allahu Akbar….
Makkah Al Mukarromah
Ahad, 07-04-2013, jam 10.05
Tidak ada komentar:
Posting Komentar