“Good Morning…” sapanya dengan ceria. Mengagetkan semua penumpang
pesawat itu, terlebih aku, karena ia mengucapkan itu tepat didepan hidungku.
Wah, ternyata sudah pagi, jam 2 dini hari. Hemm makan lagi…hidup
dipesawat 9-an jam bolak balik makan tidur tanpa gerak…ck ck ck…
“Ayyu ‘idamin…?” tanyaku seketika.
“What do you say, this is…?...what, sapi..ayam..bla..bla….” tanya
pramugrari itu cukup lantang.
“Oh, it’s rendang, opor..” jawabku
sekenanya.
“Yeah, rrendang…ophorr…hehe…” iapun
mengulangi kata seperti yang aku ucapkan dengan logat Inggrisnya yang masih
kental.
| Ibu bersama Mbak Debby |
Teringat aku beberapa jam
sebelumnya, saat aku kebingungan mencari tempat duduk.
Ibu menginginkan duduk dekat jendela dan kursi tengah, sedangkan aku ingin kursi yang depannya agak longgar agar aku bisa leluasa selonjorin kaki biar nggak bengkak.
Perjalanan yang membutuhkan waktu lama, aku perlu mencari tempat yang ku rasa nyaman.
Dan itu, ku fikir, enak kalo didepan kursi pramugrari itu.*maksa hehe…
Ibu menginginkan duduk dekat jendela dan kursi tengah, sedangkan aku ingin kursi yang depannya agak longgar agar aku bisa leluasa selonjorin kaki biar nggak bengkak.
Perjalanan yang membutuhkan waktu lama, aku perlu mencari tempat yang ku rasa nyaman.
Dan itu, ku fikir, enak kalo didepan kursi pramugrari itu.*maksa hehe…
“Oh no..no..bla..bla..”( ia bicara
dengan ibu dengan nada yang cepat hingga ibu manggut-manggut nggak ngerti ^_^ )
Kata ibuku,” Walah, wis nak ora
usah ning kono, tempat itu nggak boleh buat kita, itu khusus orang-orang
Inggris tok…”
Aku masih bersikeras ingin duduk
ditempat itu, lalu ku coba menanyakan padanya langsung,
“Miss, may I sit here?”
“Ho ho…can you speak English”
“Yeah, little…hehe…”
“Oke, but hear me, this is the amargancy door, I need your help if there
is something about this plane…bla bla..bla..
(pramugrari itu pun panjang lebar menjelaskan bagaimana cara aku harus membantunya pada saat darurat..)
(pramugrari itu pun panjang lebar menjelaskan bagaimana cara aku harus membantunya pada saat darurat..)
“Oke, I see…”
Saat pesawat sudah stabil terbangnya kami larut dalam ceritanya.
Pramugrari itu bernama Debora Syam, ia berasal dari Mumbai India.(mungkin suatu
saat engkau akan bertemu dengannya jika naik pesawat Saudi Arabia Airlines).
Ia
ramah, sangat akrab dan toleran banget. Hingga larut malam, kami banyak
bercerita tentang India juga Indonesia ; Surabaya. Malang..
(Ah dimana-mana kok ya sama, kalo kita sudah ketemu perempuan, maunya tuh ngobrol aja..
*orangnya asyik sih, santai tanpa beban..-kendala bahasa sudah tidak jadi masalah, meskipun kadang aku masih begong mencerna kata-katanya yang cepat hehe…)
(Ah dimana-mana kok ya sama, kalo kita sudah ketemu perempuan, maunya tuh ngobrol aja..
*orangnya asyik sih, santai tanpa beban..-kendala bahasa sudah tidak jadi masalah, meskipun kadang aku masih begong mencerna kata-katanya yang cepat hehe…)
“I like this country…” ucapnya. Penduduknya ramah, baik dan
tanah di sini subur…saya
pernah ke Surabaya, jika kesana, saya akan menghubungimu Rully…”
Tak terasa pesawat sudah mulai landing, hendak mendarat. Kamipun sempat berfoto ria hingga menimbulkan iri penumpang lain, yang akhirnya ikut-ikutan berfoto jg dengannya.
“Trus kapan kau liburnya mbak Debby…?” tanyaku sambil mengemasi
barang-barangku.
‘’InsyaAllah Juny I’ll go to Mumbai…Ayo, main ketempatku..” ajaknya
padaku.
“Wow, realy…? Maau dong hehehe…(karepe mau aja ^_^) ‘’Yes, I wanna be hehe…
“Wah nggak pulang-pulang nih kalo diterusin. Ayo itu sudah pada turun…”
ibu mengingatkanku.
“Ups, oke Mrs. Debby, I hope we’ll meet again next time, thanks for your
kind…”
“Oke, insyaAllah, I hope too…”
Setelah turun, kami melakukan pengecekan passport kembali kemudian mengambil koper-koper.
Tiba-tiba aku ingat, ada yang tertinggal di kursi pesawat.
“Kalo buku itu tidak kembali, maka aku akan memberikannya pd pramugrari itu, smg dia mau membacanya.” kataku dalam hati.
Saat hendak menunggu datangnya koper-koper kami, saya ke toilet sebentar, melaksanakan hajat yang tertunda selama dalam perjalanan di pesawat.
Alhamdulillah, aku tidak merasa harus kencing saat di pesawat, karena aku fikir, itu akan jadi kena najis kalo aku kencing di pesawat, karena minimnya air dan tempatnya yang buat bersama ar rijal dan an nisa’.
Sesaat keluar dari toilet, ada suara yang memanggilku, dan ku rasa tidak
asing mendengarnya.
“Aha, you are mbak Debby..?
“Aha, you are mbak Debby..?
“This is your book…”
“Oh, thank you, just now I feel, if that book not back to me, I’ll give
for you if you want….”
“No..no..thanks you..Oke, I must go to my hotel…see you,
Assalamu’alaikum…”
“Wassalamu’alaikum..thank you very much mbak…”
Ah Alhamdulillah buku ini kembali.
Tahu engkau kawan…ini adalah salah satu buku yang aku pinjam dari sekolah SD Islam As Salam, untuk menemaniku selama perjalanan sejak berangkat dari Malang hingga kembali ke Malang lagi.
Dan,buku-buku itu sangat bermanfaat sekali.
Tahu engkau kawan…ini adalah salah satu buku yang aku pinjam dari sekolah SD Islam As Salam, untuk menemaniku selama perjalanan sejak berangkat dari Malang hingga kembali ke Malang lagi.
Dan,buku-buku itu sangat bermanfaat sekali.
Bandara Soekarno Hatta - Jakarta
Pagi yang sejuk, Selasa, 9 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar